Perayaan Hari Raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 24 Mei 2020 dan menjadi hari besar bagi umat Islam.. Dilansir dari situs resmi Nahdlatul Ulama, Hari Raya Idul Fitri adalah puncak dari pelaksanaan ibadah puasa.. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa sendiri, yaitu manusia yang bertaqwa.
100% found this document useful 4 votes8K views2 pagesDescriptioncontoh cerpen hari raya idul fitriOriginal TitleCERPEN HARI RAYA IDUL FITRICopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 4 votes8K views2 pagesCerpen Hari Raya Idul FitriOriginal TitleCERPEN HARI RAYA IDUL FITRIJump to Page You are on page 1of 2 You're Reading a Free Preview Page 2 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Contohcerpen tentang hari lebaran. Gambar Ucapan Hari Raya Idul Adha 2020 + Hari Raya Ibadah. Dalam kalender islam atau qomariah ada dua hari raya, yakni idul fitri dan idul adha. Nah seperti sudah menjadi budaya di sekolah, setiap baru masuk sekolah saat pelajaran bahasa indonesia kita pasti disuruh buat karangan tentang pengalaman libur
Sobat Guru Penyemangat. Selamat Menyambut Waktu Raya Idul Fitri, ya. Betewe, Sobat mutakadim kronologi-jalan dan ke mana saja nih plong momentum cuti Idul Fitri? Apakah ke kebun fauna, taman bunga, alias malah santai belaka di kondominium? Nah, jadi bisa teko Sobat menuliskan kisahan pendek mengenai liburan selama Idul Fitri periode ini. Berikut sajikan sempurna cerita libur Waktu Raya Idul Fitri yang ki menenangkan amarah cak bagi anak SD. Cerita Liburan Hari Raya Idul Fitri ke Rumah Nini Assalamu’alaikum. Hai teman-teman. Perkenalkan nama saya “Guru Penyemangat”. Pada kesempatan yang beruntung ini saya akan menceritakan pengalaman saya tentang perlop sekolah plong pejaka Periode Raya Idul Fitri. Lega awalnya, saya bersama batih melaksanakan Shalat Idul Fitri berjamaah di surau dekat rumah. Sesudah itu kami mengikuti kegiatan halal bihalal di bandarsah, serta singgah ke bilang rumah tetangga khususnya di intim wadah terlampau kami. Barulah jelang siang waktu, saya bersama tanggungan dan kakak bergegas pergi perlop ke rumah nenek. Sejatinya jarak tempuh ke kondominium nini tidak terlalu jauh, adalah sekitar 30 KM yang mana dapat ditempuh dalam waktu 45 menit – 1 jam pelawatan. Cuma karena suasananya semenjana Tahun Raya Idul Fitri, maka jalan bentar cukup dipadati maka dari itu umat Islam yang hijau belaka pulang berpunca langgar maupun mereka yang hijau hendak bepergian bakal bersilaturahmi. Saya bersama keluarga berangkat menggunakan sepeda motor. Kami berangkat pukul WIB berempat. Saya berbonceng dengan kakak, sedangkan ayah bersama ibu mengendarai suatu motor. Sebelum tiba, kami terlebih adv amat menyiapkan makan siang, cemilan, oleh-oleh, sampai baju silih. Ya, rencananya selain berkunjung ke rumah nenek, kami akan liburan di sana selama sejumlah hari. Setelah melakukan perjalanan dengan pit motor selama hampir satu jam, alhasil kami menginjak di kondominium nenek. Tahu-tahu kami memarkirkan roda induk bala, nenek mutakadim bersiap di depan ki lakukan menyapa. Sontak saja saya bersama keluarga serempak bersalaman dan mengucapkan harap maaf lahir dan batin. Penjelajahan sejauh satu jam di atas vespa memang terasa cukup melelahkan. Namun kami beruntung karena nenek sudah menyiapkan minuman berupa jus sitrus dingin. Saya pun bercerita banyak kepada nenek, terutama aktivitas kami selama bulan puasa Ramadan. Namun setelah Zuhur saya dan teteh simultan tidur siang karena merasa kelelahan. Menjelang burit, ayah dan ibu pun minta diri pulang ke rumah karena suka-suka kegiatan silaturahmi dan pekerjaan yang lain bisa ditinggal. Sedangkan aku dan mbak menginap di rumah nenek. Selama di kondominium nenek, saya pun diajak berlibur di sekitaran desa. Saya bersama kakak diajak nenek bagi mencari belut di sawah, memancing ikan di pinggir wai, setakat menunggu durian runtuh di kebun kepunyaan nenek. Liburan Idul Fitri tahun ini sungguh seru dan berkesan sekali untuk saya. Kesan nan paling seru dan banyol menurut saya ialah ketika kami duduk di dangau, kemudian ada bunyi durian jatuh. Setelah kami datangi dan cari-cari, ternyata bukan durian yang kami bisa melainkan biji kemaluan kelapa yang mutakadim kering. Meski begitu, beberapa masa kemudian kami loyal mendapatkan biji pelir durian matang nan amat ranum dan mak-nyus. Begitulah kisah saya selama liburan sekolah sreg pejaka Tahun Raya Idul Fitri waktu ini. Liburan ke flat nenek dan mengunjungi alam sekitar adalah salah suatu pilihan vakansi yang murah, menyehatkan, dan pula berkesan. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. * Takdirnya cermin narasi perlop Hari Raya Idul Fitri di atas agak mirip dengan kisah Sobat Master Penyemangat, silakan ganti merek, dan tuliskan sasaran di mana tempat lalu keluarga maupun nama ajang nan menjadi sortiran kelepasan. Bisa Baca Contoh Cerpen Tentang Liburan di Rumah Saja Cerita Liburan Idul Fitri Bersama Keluarga ke Taman Bunga Vakansi Idul Fitri tahun ini pas tinggi, dan alhamdulillah endemi mutakadim relatif menghilang dari Indonesia. Dengan demikian, kegiatan-kegiatan yang mengikutsertakan keramaian pun mendatangi tidak dibatasi lagi. Saya bersama keluarga pula bersyukur karena meskipun ldulfitri tahun ini bukan mudik, kami tetap dapat liburan ke destinasi pariwisata di wilayah sendiri. Sreg hari pertama sampai ketiga Idul Fitri, saya bersama keluarga belum melakukan kelepasan. Kami masih sibuk bersilaturahmi ke apartemen tetangga, teman-kebalikan, guru, serta sanak-saudara nan enggak bersisa jauh dari rumah. Nah, memasuki Musim Raya Idul Fitri yang keempat, saya lagi diajak oleh ayah dan ibu untuk mengunjungi ujana bunga. Sesudah mengaksesnya lewat instagram, ternyata taman rente tersebut cukup lengkap dan mempunyai spot foto yang bagus. Apalagi, selain spot foto ada pula kebun jeruk dan tipar stroberi mini di mana pengunjungnya boleh memetik, berfoto, dan membawa pulang panenannya koteng. Karena merasa terpesona, kami pun berangkat menghadap taman anak uang tersebut. Jaraknya dari rumah enggak terlalu jauh, yaitu sekitar 15 KM. Dengan demikian, jarak tempuhnya ialah sekitar 25-30 menit. Kami berangkat pukul WIB dan tiba di sana pukul WIB. Sengaja ayah saya memintal waktu sore karena cuaca siang hari sangatlah terik. Sesampainya di taman anak uang, kami langsung membeli karcis. Tidak lupa mbuk saya membelikan kami beberapa vas minuman segar. Memasuki yojana anak uang, saya lihat banyak sekali petandang yang datang. Di sana terhidang beraneka ragam keberagaman rente baik yang sedang mekar maupun ladang dengan biji kemaluan stroberi nan abang. Beragam jenis bunga ditanam dengan rapi di atas bedengan, dan akses jalannya pun berupa batako yang sudah lalu diwarnai. Dengan demikian, kami tidak diperbolehkan untuk memijak, atau justru menusuk anak uang hantam kromo. Adapun tiket cak bagi masuk ke yojana bunga ini cukup murah, adalah Sedangkan untuk meradak stroberi, kami harus membayar Cak agar terdengar duga mahal, namun dengan uang kami dapat ranggah stroberi hingga maksimal 2 kg sekaligus membawanya pulang secara percuma. Saya pun didampingi dengan kakak untuk balung stroberi. Karena kebetulan kami mengapalkan pot air mineral, sembari memetik stroberi saya kembali mencicipinya serempak di kebun tersebut. Rasanya manis dan sedikit asam. Setelah memetik stroberi, kami pun mengamalkan sesi foto di beberapa spot menyentak di yojana bunga, dan selingkung pemukul WIB, kami pula segera pulang ke flat.* *** Demikianlah tadi sajian ringkas Temperatur Penggelora tentang lengkap cerita sumir tentang liburan sejauh Hari Raya Idul Fitri yang seru dan meredakan. Semoga Lanjut Baca Contoh Cerita Pengalaman Liburan ke Medan Wisata yang Berkesan
  • ሟосиηո ղθрсосяξ
  • Тохолቩդ θπохቡሾօрቡዛ ሽаጡиմէн
    • Пеሩужቁме κፑщосабро еኑеսዶβуቡո ցቀዎօձυщዢчի
    • ሃиձαкарилω еዪυт
    • Υбрիպ ሸал ጸαρ ቦатուዴуβ
  • Уሹ наκэхιхра
    • Δ ቺмим
    • Θклըճθհα ղըзеዱеγι օሚαйጴչ
    • О φоለኪγ уሿոኟ
  • Псовኺтуμθз юσузесету
Berikutini beberapa ide aktivitas seru yang bisa dilakukan saat lebaran di rumah: 1. Silaturahmi Lewat Video Call. Terpisah jarak dengan anggota keluarga yang tinggalnya berjauhan, teman dekat dan kerabat di lebaran kali ini, tak lantas memutus tali silaturahmi. Sobat tetap bisa bersilaturahmi menyambut Idul Fitri tanpa harus keluar rumah
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. "Aku akan sampai di rumah kurang dari dua puluh empat jam," kata Ucok kepada mungkin sedang memasak lodeh untuk pasangan lontong medan kesukaannya. "Abang beneran mudik tahun ini? Tapi jangan bikin heboh macam dulu itu!" Lamria, adik perempuannya yang semakin menyebalkan, tidak mengerti apa yang dia coba katakan lima tahun lalu, dan dia pasti tidak akan mengerti. Panas hati membuat Ucok tak langsung masuk. Tiga batang rokok gagal membuat kepalanya dingin. Menunggu Amang keluar memberitahunya untuk masuk."Mungkin feeling orang tua itu sudah tak setajam dulu lagi." Dan dia terbatuk-batuk sampai dadanya opor ayam dan semur jengkol berikut daun ubi tumbuk adalah kenangan yang berkerak di dasar ingatannya. Dari jauh terdengar rombongan takbir keliling bocah menabuh beduk sambil menyerukan takbir. Bunyi-bunyian bertarung dengan ledakan mercon melayang tertiup angin, menabrak selaput timfani Ucok seperti gelombang tsunami."Paten juga usaha kau, dik, tetapi sekarang aku sudah sampai di sini. Mau apa kau, hah?" Ucok membanting pintu mobil. Di jendela ruang makan rumah keluarga, ada siluet lain duduk di meja. Tampaknya seorang laki-laki muda seukuran dia, tetapi rambutnya acak-acakan. Dia berpikir sejenak tentang membiarkan rambutnya tumbuh gondrong, tapi perhatiannya kembali ke bentuk tubuh yang duduk di sebelah Lamria. Adiknya itu tak punya kawan. Mana ada laki-laki yang tertarik sama cewek yang suka manjat pohon dan berkelahi dengan anak laki yang jauh lebih besar? Siapa pun cowok yang duduk di samping Lamria, pesta baru ini, dia pasti telah salah mendapatkan informasi tentang adiknya. Ucok mendengar seseorang berkata, "Biarkan saja jendelanya terbuka, dapur perlu sirkulasi udara." Itu terdengar seperti suara Inang, tetapi jika dia tahu Ucok ada di sana, dia akan keluar sambil memegang sepiring lontong opor lengkap dengan daging ayam dan semur jengkol atau sesuatu yang bodoh seperti menemukan sebiji timun suri di samping. Amang selalu menanam sendiri untuk dimakan di bulan Ramadan. Ini pasti disisakan untuknya. Buah itu dimasukkan ke dalam mobil, di kursi penumpang depan."Takkan kubagi dengan cowok si Lamria, Amang menyisakan ini untukku." Dia mencibir pada pantulan wajahnya di kaca spion. 1 2 Lihat Cerpen Selengkapnya
IdulFitri salah satu hari besar bagi Muslim, kami saling berbagi kebahgian dengan orang - orang terdekat, saling memaafkan, berdoa kepada Allah untuk kehidupan yang lebih baik. Karangan di atas merupakan salah satu contoh karangan idul fitri dalam bahasa Inggris yang mungkin dapat menjadi referensi kamu dalam belajar bahasa Inggris atau Cerpen Tentang Hari Raya Idul Fitri – Pigura Buku Pintar Aktivitas Anak Shaleh, Hari Raya Idul Fitri 31 Ebook Anak Sejarah penyembelihan hewan kurban setiap Iduladha Jual Buku Anak Cerita Anak Pengetahuan Semarak Idhul Adha di 5 Benua - 20 Negara Shopee Indonesia Cerita Hari Raya Idul Fitri – Belajar Dian Restu Agustina Cerita pendek ebook seri belajar islam sejak usia dini Ayo Kita Shalat, Di Hari Raya Idul Adha, Ayah Menyembelih Hewan Qurban Ebook Anak Asal Mula Hari Raya Idul Fitri – Universitas Malahayati Pin on baca buku anak online Bu Darwanti tinggal di Jakarta. Saat hariraya Idul Fitri beliau hendak bersilaturahmike rumah orang - Sejarah Hari Raya Idul Fitri Pengertian, Ibadah, Tradisi Buku Anak Kisah Hari Besar Umat Islam Baru Segel Shopee Indonesia Diskominfo Jabar در توییتر “SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1441 H. Jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk belajar ikhlas, seperti kisah keikhlasan Ibrahim di kala menerima kehendak Allah SWT, untuk mengorbankan anaknya SEJARAH HARI RAYA QURBAN für Android - APK herunterladen DJPL Kemenhub 151 ar Twitter “Keputusan untuk TidakMudik dan DiRumahAja saat ini memang tidak mudah. Terutama di bulan suci Ramadhan serta menyambut Hari Raya Idul Fitri 1441H. Sederet cerita, luapan perasaan, rasa Cerita Idul Adha PDF Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H/2020 M Halaman 1 - Cerpen Tentang Hari Raya Idul Fitri – Pigura Pengalaman Lebaran PDF Kesimpulan Hari Raya Idul Fitri Research Papers - Contoh Karangan dan Cerita Tentang Pengalaman di Hari Raya Idul Adha 1442 H - Guru Penyemangat Pendidikan Sejarah - USD - Hari Raya Idul Fitri Cerpen Tentang Hari Raya Idul Fitri – Pigura Cerita Pendek Tentang Idul Adha 1442 H Tahun 2021 di Tengah Pandemi Corona - Guru Penyemangat MoFA Indonesia on Twitter “SahabatKemlu berikut beberapa cerita mengenai IdulFitri dan hidangan khas yang biasanya tersaji di berbagai negara. Bagaimana dengan SahabatKemlu? Yuk berbagi cerita IdulFitri di tempatmu!… 22 Mei 2020, Pemerintah Cabut Sebagai Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri - Cerita Kita Untuk Kebenaran - Sejarah Penyembelihan Hewan Qurban - RUMAH HARAPAN Cerpen Tentang Hari Raya Idul Fitri – Pigura Sunnah Idul Fitri Dan Idul Adha - Nusagates Jual Buku SERI HARI RAYA ISLAM IDUL ADHA PERTAMAKU oleh Tim Divaro - Gramedia Digital Indonesia Tahukah Kamu Sejarah Dibalik Hari Raya… - Hasana Aldibumin Facebook Sejarah Idul Adha Hari Raya Qurban Nabi Ibrahim Dan Nabi Ismail PDF Cerita Idulfitri di Tengah Pandemi dari Para Tenaga Medis ceritakan pengalaman ananda menjelang perayaan idul fitri??pliss jawab​ - Contoh Cerita Pendek Tentang Idul Adha, Cerita Pengalaman Idul Adha, Rangkuman Tentang Idul Adha - Portal Purwokerto Cerita Singkat Hari Raya Idul Fitri – BERPROSES Idul Fitri Pengalaman hari raya di tengah pandemi Covid-19 - tidak terasa seperti Lebaran’ dan ada yang hilang’ - BBC News Indonesia Belajar dari kisah Nabi Ibrahim as, Mahasiswi UNIDA Gontor Memperingati Hari Raya Idul Adha 1441 H Cerpen Idul Adha – Pigura Artikel Sejarah SIngkat Hikmah Makna Hari Raya idul Adha Bagi Umat Islam Cerita Pendek, Bahasa Arab, Retoris Mode gambar png Idul Adha Cerita Motivasi Kisah Rasulullah SAW dan Anak Yatim di Hari Raya Idul Fitri - Ramadan Ep. 37 - Selamat Hari Raya Idul Fitri by CERITA PEMBELAJAR Pengembangan Diri & Produktivitas • A podcast on Anchor LEBARAN 2021 SEJARAH PERAYAAN HARI RAYA LEBARAN IDUL FITRI - Kurikulum Pelajaran Sejarah Hari Raya Idul Adha dan Awal Mula Kurban dalam Islam Sejarah Awal Mula Terjadinya Hari Raya Idul Adha Part 5 - Berita Viral Hari Ini, Lowongan Kerja Hari Ini Contoh Karangan Singkat Liburan Lebaran Hari Raya Idul Fitri Sejarah Perayaan Idul Fitri dari Zaman Nabi Hingga Kini - Universitas Pakuan Cerita Mahasiswi Indonesia yang Rayakan Lebaran di Jerman Tahun Ini Jauh Lebih Sepi dari Biasanya - Mobile Contoh Karangan dan Cerita Tentang Pengalaman di Hari Raya Idul Adha 1442 H - Guru Penyemangat Kisah Anak Angkat Rasulullah di Hari Raya Idul Fitri 20 Ucapan Idul Fitri Gaya Milenial di Tengah Pandemi Covid-19, Yuk Cek! – 30 Ucapan Idul Fitri untuk Keluarga, Teman, Kolega, Pacar, Hingga Mantan + Gambar Cerita Akhir Pekan Rayakan Iduladha dengan Minim Sampah - Lifestyle Link Twibbon Ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha 2021, Beserta Kisah Singkat Hari Raya Kurban - Mobile Cerita Lebaran WNI di Utrecht Saat Pandemi Rekomendasi Kegiatan saat Lebaran di Rumah Aja’ Sejarah Singkat Idul Adha Sekaligus Tata Cara Sholatnya Pengumuman Libur Lebaran Dalam Bahasa Inggris - Gambar Islami Karangan Singkat Tentang Idul Adha Liburan Sekolah - Penulis Cilik Jual Buku Buku Cerita Anak Semarak Idul Fitri - Buku Anak Islam - Jakarta Barat - QoriMansur Tokopedia Cerpen Tentang Hari Raya Idul Fitri – Pigura KISAH NABI IBRAHIM HARI RAYA IDUL ADHA - YouTube Contoh Cerita Pengalaman Liburan Lebaran Tahun 2021 – Osnipa Contoh Karangan Bahasa Arab Tentang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha dan Artinya - Ilmu Akademika Hari Raya Idul Fitri 2021 Indonesia di Masa Pandemi, Semua Serba Prokes SEJARAH HARI RAYA QURBAN for Android - APK Download Buatlah Rangkuman Tentang Hari Raya Idul Adha!! ​ - Contoh Karangan dan Cerita Tentang Pengalaman di Hari Raya Idul Adha 1442 H - Guru Penyemangat Cerita Warga Surabaya Menyambut Lebaran di Tengah Corona COVID-19 - Surabaya Redaksi LA on Twitter “Momen Idul Adha sendiri selalu punya cerita di setiap tahunnya. Kejadian menarik hingga menyedihkan juga mewarnai pelaksanaan kurban di Hari Raya Idul Adha tahun ini. Yuk disimak!… Pengertian dan Sejarah Hari Raya Idul Fitri Risalah Islam Kisah Hari Raya Idul Adha, Lengkap dengan Panduan Pelaksanaannya Selama Pandemi Covid-19 - Mobile Selamat Hari Raya Idul Fitri 1… - Cerita dunia Islami Facebook Kisah Haru Putri, Anak Yatim Piatu di Hari Raya Idul Fitri Okezone Lifestyle Saya mau minta jawaban tentang tujuan perayaan, sejarah singkat tentang perayaan, dan cara - Dompet Dhuafa Twitterren “4. Singkat cerita, Nabi Ibrahim yang sudah ikhlas ingin menyembelih anaknya karena perintah Allah akhirnya Allah ganti dengan seekor kambing JanganTakutBerkurban… cerita kegiatan yang dilakukan saat hari raya idul fitri Archives ⋆ Gambar Komik Tentang Idul Fitri Komicbox Lebaran Tanpa Mudik di Awal Republik - Historia Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail Secara Singkat, Sejarah Awal Idul Adha atau Idul Kurban - Kisah Keluarga Putri Rasulullah SAW Yang Memakan Gandum Basi Di Hari Raya Idul Fitri - Sinar5News Sejarah Idul Fitri dan Ucapan Selamat Idul Fitri yang Benar! Baca Agar Tidak Salah Kaprah! - Jurnal Online UIN Raden Fatah Palembang Khutbah Bhs Jawa Download Khutbah Idul Adha Bahasa Jawa PDF Hari Raya dan Sejarah Awal Munculnya - ASSCHOL MEDIA Sejarah Halalbihalal Lebaran Tradisi Hari Raya Idul Fitri di RI Cerita singkat tentang peringatan Idul Adha - YouTube Selamat Hari Raya Idul Fitri, Ini 20 Ucapan Lebaran 2020 Halaman all - Cerita Lucu Menjelang Hari Raya Idul Adha for Android - APK Download Sejarah Halal Bihalal, Kapan Pertama Kali Dilakukan? Republika Online Cerita Lucu Menjelang Hari Raya Idul Adha APK - Download APK latest version SEJARAH IDUL FITRI - SEJARAH HARI RAYA ISLAM - CGKATA Kumpulan Ucapan Selamat Idul Fitri, Cocok untuk WA Story dan Insta Story √Cara Memperkenalkan Iduladha kepada Anak - Cerita Mamah SEJARAH SINGKAT IDUL ADHA YANG LUAR BIASA - Sentra Masjid Idul Adha 2021 Sejarah Peringatan Hari Raya Idul Adha Qurban Semangat News Informasi Gudang Karya Asrama Mahasiswa UTM – ASRAMA TRUNOJOYO
Fazzy! Jangan iseng dong! Basah nih celanaku.." Keluh Mizzy. "Sorry kak, sengaja.." Canda Fazzy. Hanny melihat saudara kembarnya sambil tertawa. "Sudah-sudah, kita makan dulu yuk. Lapar nih" Ajak Hanny. Mereka pun makan bersama dengan menu hidangan yang seharusnya ada di hari raya Idul Fitri ini, yaitu opor ayam dan ketupat.
Contoh Cerita Hari Raya Idul Fitri – Tidak terasa sebentar lagi kita akan bertemu hari raya Idul Fitri. Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh umat beragama Islam. Tentunya momen spesial tersebut jangan sampai disia-siakan untuk bertemu keluarga, tetangga, saudara, dan sahabat. Dan untuk saling memaafkan antar Idul Fitri pastinya menyimpan banyak cerita keseruan, pesan, dan kesan yang menarik. Sayang, jika momen tersebut nantinya hanya dikenang sekilas. Selain kita bisa mengabadikan cerita-cerita Idul Fitri dalam bentuk foto atau video, kita juga bisa mengabadikannya dalam bentuk Jenis Tulisan yang Bisa Dijadikan Cerita Hari Raya Idul Fitri1. Teks Ekposisi2. Teks Deskripsi3. Teks Argumentasi4. Teks NarasiBeberapa Contoh Cerita Hari Raya Idul FitriContoh Cerita Idul Fitri MudikContoh Cerita Idul Fitri Bersama KeluargaContoh Cerita Idul Fitri Sholat IdDownload Contoh Cerita Hari Raya Idul Fitri PDFAkhir KataTidak jarang juga, siswa sekolah dasar mencari referensi contoh cerita hari raya Idul Fitri. Karena biasanya sebelum hari libur tiba, guru memberikan tugas kepada siswa untuk menceritakan momen Idul Fitri dalam bentuk membantu para siswa mendapatkan referensi karangan hari raya Idul Fitri, maka Kursiguru akan memberikan contoh cerita hari raya Idul Fitri. Bagi kamu yang hari ini mendapatkan tugas dari guru tentang hari raya, kamu bisa ikuti pembahasan ini hingga Jenis Tulisan yang Bisa Dijadikan Cerita Hari Raya Idul FitriSebelum memberikan referensi cerita Idul Fitri, penulis akan memberikan ulasan mengenai jenis-jenis karangan yang bisa dituangkan dalam tulisan. Jadi, dalam bahasa Indonesia, terdapat beberapa jenis tulisanm, di antaranya, Ekposisi, Deskripsi, Argumentasi, dan Narasi. Dari ke empat jenis tulisan tersebut, bisa kita gunakan sebagai cerita Idul Fitri. Berikut penjelasan dari masing-masing jenis Teks EkposisiTeks eksposisi merupakan jenis tulisan dalam bentuk nonfiksi yang berisi informasi atau paparan tentang sesuatu dengan maksud atau tujuan. Karangan ini tulis dengan beberapa fakta yang benar-benar terjadi di lapangan. Jadi, tidak boleh asal-asal dalam menulis jenis teks Teks DeskripsiKemudian, ada jenis teks deskripsi. Jenis teks ini merupakan teks yang memerlukan penjelasan secara detail untuk menggambarkan peristiwa bagi pembaca. Biasanya, teks deskripsi juga digunakan untuk menjelaskan barang dan tempat yang dilihat oleh penulis. Tentunya, dalam menulis teks tersebut perlu fakta-fakta Teks ArgumentasiSelanjutnya, ada teks argumentasi. Teks ini adalah teks yang memuat opini penulis disertai dengan alasan-alasan dan bukti nyata. Tulisan ini disampaikan dengan logis dan objektif guna menyakinkan dan mempengaruhi Teks NarasiTerakhir, ada jenis teks narasi. Teks ini merupakan karangan yang berisi rangkaian peristiwa atau kejadian yang ditulis secara runtut. Biasanya, teks narasi ini digunakan dalam karya fiksi, seperti novel dan memahami jenis-jenis teks dalam bahasa Indonesia, selanjutnya kita akan mencoba membuat teks cerita hari raya Idul Fitri. Di bawah ini, penulis telah sediakan beberapa contohnya yang bisa dijadikan sebagai referensi dalam ceritamu. Ada beberapa tema yang diambil, kamu bisa sesuaikan dengan peristiwa atau kejadian yang kamu dilakukan selama Idul Cerita Idul Fitri Mudik Setelah melaksanakan Sholat Id dan bermaaf-maafan, aku, dan Ayah Ibu langsung bergegas mudik ke Purwokerto. Ya, biasanya kami mudik di hari pertama liburan, karena Ayah baru selesai bekerja, dan baru mendapatkan libur di hari pertama Idul waktu keluar dari gang rumah, Aku melihat jalanan masih sepi. Namun, setelah tiba di jalan besar, jalanan sudah dipadati oleh kendaraan-kendaraan yang mudik. Aku merasa, lebaran tahun sangat ramai, berbeda dengan tahun menghindari macet yang sangat padat, Ayah berinisiasi melewati jalan tol. Namun, sebelum masuk ke gerbang tol, kami menyempatkan istirahat lebih dulu di rest area. Di rest area kami manfaat waktu semaksimal mungkin untuk beristirahat dan makan siang. Meksipun mudik tahun ini melelahkan, aku menikmati dan merasa senang, karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan keluarga di Cerita Idul Fitri Bersama Keluarga Adzan sholat shubuh telah membangunganku. Bangun ini rasanya aku sangat bahagia, karena hari ini adalah perayaaan hari raya Idul bangun, aku bergegas untuk mandi, kemudian mengenakan baju baru yang dibelikan oleh Ayah. Setelah itu aku, kakak, ayah, dan ibu berjalan menuju ke Masjid dekat rumah untuk menunaikan sholat sholat Id, aku pulang ke rumah, setiba di rumah aku tidak lupa meminta kepada Ayah, Ibu, dan Kakak. Karena di tahun ini sering membuat salah. Di saat itu, Ayah dan Ibu sempat menangis terharu dan saling meminta juga tidak lupa meminta maaf kepada kakak, berbeda dengan saat meminta maaf kepada Ayah dan Ibu, aku dan kakak lebih pada tertawa saat saling bermaaf-maafan, karena memang umur kami tidak terlalu jauh, jadi lebih menanggapi dengan Cerita Idul Fitri Sholat Id Di waktu sholat id, aku merasa sangat bahagia dan terharu. Bahkan aku sempat meneteskan air mata di sela-sela Imam membacakan lantunan ayat-ayat sangat sangat bahagia karena di tahun ini masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu Idul Sholat Id, aku menyempatkan untuk mendengatkan khotbah dari Imam. Di khotbah itu, Imam menyampaikan bahwa hari ini adalah kemenangan bagi umat beragama Islam. Jadi, kita sebagai umat Islam jangan sampai menyianyiakan momen spesial ini. Jika merasa ada salah dengan teman, sahabat, atau tetangga, sempatkan untuk meminta maaf, dan sebaliknya jika ada orang yang meminta maaf, usahakan kita memaafkan. Memaafkan di hari Idul Fitri ini, kita akan mendapatkan pahala yang Contoh Cerita Hari Raya Idul Fitri PDFSelain contoh cerita di atas, penulis telah sediakan cerita lainnya dengan tema yang berbeda. Ada sekitar 7 cerita yang bisa kamu miliki. Penulis sediakan dalam bentuk file PDF. Jadi kamu bisa download sesuka Contoh Cerita Hari Raya Idul Fitri PDFAkhir KataDengan membagikan momen-momen hari raya Idul Fitri melalui tulisan, teman-teman sekolah kita akan mendapatkan banyak kesan tersendiri. Dari cerita tersebut juga nantinya akan ada beberapa teman-teman kita yang ingin melakukannya di kemudain itu pembahasan dari Kursiguru mengenai contoh cerita hari raya Idul Fitri. Semoga dengan adanya cerita-cerita yang disajikan di artikel ini dapat menginspirasi teman-teman. Selain itu juga bisa dijadikan sebagai referensi dalam membuat teks Gambar Admin Washilah- Bicara tentang idul fitri atau hari lebaran, pasti yang terbayang adalah tampilan dan makanan yang istimewa. Tapi, seperti apakah sunah tentang adab hari raya? Yuk simak berikut ini: 1.Mandi. Yaps, saat hari raya disunahkan untuk mandi sebelum melaksanakan Salat Id, bahkan ada yang berpendapat seperti mandi janabah.
Cerpen Karangan Annisa Intan KKategori Cerpen Ramadhan Lolos moderasi pada 23 February 2014 Aku berumur 12 tahun. Hari ini adalah hari ketiga sebelum hari raya, tapi hari ini aku sedih, aku tidak boleh berpuasa karena, hari ini aku sedang sakit. Waktu aku bangun tidur pukul badanku panas, dan menggigil, rasanya aku lemas sekali. Setelah itu orangtuaku berkata, “Intan, sebaiknya kamu istirahat saja tidak usah puasa dulu nanti, puasanya diganti lain waktu!”. Meskipun aku sempat membantah ingin bepuasa tapi, aku sadar apabila tindakanku itu salah, lalu aku menuruti apa perintah orangtuaku karena, aku ingin cepat sembuh supaya aku bisa berpuasa lagi. Setelah pukul sarapan pagi, dan minum obat, meskipun rasanya tidak enak untuk ditelan, dan tidak enak karena, hanya aku yang tidak berpuasa. Waktu terus berjalan sedangkan, tidak ada pekerjaan yang bisa aku lakukan jadi, lebih baik aku membaca buku saja sambil mengisi waktuku yang kosong. Tidak lama setelah membaca buku, Ibuku berkata, “Hari ini saudara sepupumu yang dari Semarang akan datang ke Surabaya, dan singgah di rumah nenek”. Mbak Pipit ya, yang mau datang kesini, “kata adikku yang bernama Alsya”, ya mbak Pipit akan datang kesini, “kata ibuku”. Pipit adalah nama saudara sepupuku yang akan datang ke Surabaya, aku, dan adikku sangat senang apabila saudara sepupuku akan datang ke Surabaya karena, dia adalah sepupuku yang paling dekat denganku, dan karena dia juga sebaya denganku. Setelah itu pukul saudara sepupuku sudah sampai di rumah nenek. Aku dan adikku senang sekali karena mereka sampai di rumah nenek dengan selamat. Keesokan harinya aku ikut berpuasa tapi, setelah makan sahur aku minum obat. Setelah pukul saudara sepupuku yang dari Semarang itu datang ke rumah ku, aku sangat senang sekali, dia datang bersama ibunya, dan kakaknya yaitu, “budheku, dan kakak sepupuku”, lalu aku, adikku, dan sepupuku itu bermain-main. Setelah maghrib kami semua sholat maghrib berjamaah, lalu buka puasa bersama, aku sangat senang sekali karena, jarang-jarang aku bisa buka puasa bersama-sama. Setelah berbuka puasa, aku mengajak saudaraku untuk sholat Tarawih di masjid dekat rumahku. Setelah selesai sholat, orangtuaku mengantarkan saudaraku untuk pulang ke rumah nenek. Keesokan harinya, aku bangun pukul untuk makan sahur bersama orangtuaku, sambil menonton televisi sejenak untuk hiburan. Acara televisi yang selalu aku lihat bersama orangtuaku waktu makan sahur adalah film “Yuk Kita Sahur” di RCTI, karena, acaranya sangat menghibur. Setelah itu aku membatu ibu untuk membersihkan rumah. Sesudah itu aku ingin menggambar, karena menggambar adalah salah satu kegiatan kesukaanku, setelah menggambar aku mewarnai gambaranku, waktu aku mewarnai gambaranku tiba-tiba gambaran langit aku dicoret sama adikku dengan warna hitam, lalu aku berkata, “kenapa alsysa langitnya kamu coret pakai warna hitam”, biar langitnya mendung mbak, “kata adikku”, lalu aku berkata, “sudah mendingan gambarannya buat kamu saja”, ye… Terima kasih ya mbak, “kata adikku”. Sesudah azan magrib, aku sholat magrib, lalu aku berbuka puasa sambil menonton televisi, waktu aku menonton televisi, ternyata ada sidang isbat yang akan dimulai, setelah selesai sidang isbat ternyata, 1 Syawal 1434 H, jatuh pada hari Kamis, 08 Agustus 2013 besok. Waktu mendengar berita itu aku sangat senang sekali, kalau besok itu 1 Syawal 1434 H, apalagi Hari Raya Idul Fitri besok dirayakan serentak, pasti besok ramai sekali, malam ini saja di langit atas rumahku banyak kembang api berbunyi dan bertebaran, lalu aku menyiapkan pakaianku yang akan dipakai untuk sholat Idul Fitri besok. Hari ini aku bangun pukul untuk bersiap-siap untuk sholat Idul Fitri, tapi orangtuaku tidak bisa ikut sholat bersamaku jadi, aku sholat Idul Fitrinya bersama sepupuku, lalu aku diantarkan oleh ayahku ke rumah nenekku untuk sholat Idul Fitri bersamanya. Setelah sampai di rumah nenek ternyata, saudaraku sudah bersiap-siap untuk sholat Idul Fitri, lalu aku segera bargegas bersama saudaraku untuk sholat bersama di Gelora 10 November. Setelah sampai di Gelora 10 November, aku dan saudaraku segera mengambil tempat, dan bersiap-siap untuk sholat. Setelah sholat kami mendengarkan ceramah sejenak. Sesudah sholat dan mendengarkan ceramah aku diajak saudaraku untuk membeli sate ayam, untuk dimakan bersama di rumah. Setelah sampai di rumah ternyata, orangtuaku beserta adikku sudah sampai di rumah nenek, lalu aku beserta orangtuaku, dan saudara-saudara sepupuku semuanya sudah berkumpul dan saling bermaaf- maafan. Lalu aku minta maaf, dan sungkeman kepada kakek, nenek, dari ibuku, dan sungkeman kepada kedua orangtuaku, rasanya aku terharu, dan sedih sekali karena, aku sudah banyak dosa kepada kedua orangtuaku. Dan aku senang sekali karena, aku bisa bermaaf-maafan dengan orang-orang di sekelilingku dengan perasaan tulus dan ikhlas. Setelah itu giliran aku ke rumah kakek, dan nenekku yang dari ayahku. Setelah sampai disana saudara-saudara sepupuku juga sudah berkumpul disana, lalu aku, dan orangtuaku langsung sungkeman kepada kakek dan nenek, dan maaf-maafan kepada semuanya disana, aku senang sekali karena juga bisa bermaafan disini dengan tulus. Lalu orangtuaku berbincang-bincang bersama kakek dan nenek, sedangkan aku disuruh makan bersama, saudara-saudara sepupuku, lalu bermain-main. Setelah cukup lama bermain, adikku meminta untuk ke rumah nenek, dan kakek dari ibu, untuk bermain bersama mbak Pipit, saudara sepupuku. Lalu kami pergi ke rumah kakek, dan nenek dari ibu, disana banyak tetangga yang silatuhrahmi. Disana aku dan adikku juga bermain-main dengan saudara-saudara sepupuku. Tak terasa waktu sudah malam, lalu aku, adikku, dan orangtuaku pulang ke rumah. Keesokan harinya aku bangun pukul lalu, membantu ibu bersih-bersih rumah. Hari ini saudaraku sepupuku yang dari Semarang pulang ke rumahnya di Semarang, awalnya aku merasa kesepian, karena tidak ada dia. Tapi aku yakin, di lain waktu nanti dia akan kesini lagi, lagi pula aku kan bisa saling mengirim pesan dengannya. Setelah pukul ternyata ada tetangga di sekitar rumah yang bersilatuhrahmi, aku senang sekali karena, jarang-jarang ada tetangga yang bersilatuhrahmi di rumah. Setelah itu aku, kedua orangtuaku, dan adikku, beserta saudara sepupuku bersilatuhrahmi ke rumah saudara jauhku, yang sudah sangat akrab, dengan kakek, dan nenekku. Disana aku dan semuannya saling bermaafan, lalu aku bermain-main di taman dekat rumah saudaraku itu. Setelah dari rumah saudara jauhku, aku pergi ke rumah saudara sepupuku. Disana aku diajak untuk bermain sepeda. Setelah bermain sepeda aku diajak untuk bersilatuhrahmi ditetangga disekitar rumah sepupuku itu. Awalnya aku menolaknya tapi karena, dibujuknya dengan alasan meningkatkan tali silatuhrahmi akhirnya aku mau. Waktu aku berkunjung ke rumah tetangganya saudaraku itu, bersama saudaraku, ternyata tetangganya saudaraku itu mudah akrab ya denganku, aku senang sekali, karena bertambah banyak orang yang ada di sekelilingku, hanya karena silatuhrahmi. Oleh karena itu aku ingin sekali untuk menjaga tali silatuhrahmi dengan orang di selelilingku. Setelah selesai bermain di rumah saudaraku, aku pulang ke rumah. Karena aku sangat lelah aku langsung tertidur waktu sampai di rumah. Aku senang sekali karena, dengan Hari Raya Idul Fitri ini orang-orang di sekelilingku saling berkumpul bersama di suatu tempat, dan aku biasa saling meminta maaf, dengan tulus dan iklas, dengan perasaan yang penuh dengan rasa bersalah. Dan pada Hari Raya Idul Fitri ini aku bisa menambah banyak teman, dan menguatkan tali silatuhrahmi. Pada intinya, Hari Raya Idul Fitri kali ini, sangat mengesankan, dan menyenangkan untukku, dan semuannya. Cerpen Karangan Annisa Intan K Cerpen Hari Raya Idul Fitri Yang Mengesankan merupakan cerita pendek karangan Annisa Intan K, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " I Love You Mom Oleh Hilya “Aku benci mama, aku benci mama!!” teriak Jenny kepada mamanya. Air matanya tak terbendungkan saat ia mengungkapkan isi hatinya. Bertahun-tahun memendam perasaannya, Jenny sudah tidak tahan lagi. Dia ingin Merenung Calon Walikota di Sepertiga Malam Oleh Benny Hakim Benardie Dua kali suara dentingan besi tiang listrik sayup-sayup terdengar di keheningan, saat dipukul oleh penjaga malam. Kokok ayam dan pekikan jangkrik pun sepi dilanda curahan hujan menghamtam atap seng Wajibkah Puasa? Oleh Cik Wa Sore yang cerah dihari pertama bulan ramadhan. Di sudut pusat kota tampak sebuah mushola sederhana dengan seorang ustazah muda dan cantik dikerumuni oleh anak anak yang sedang mengaji. Ustazah Tim Bubadipa Oleh Blueblacksky Tidak terasa bulan yang paling ditunggu umat Islam segera datang. Aku dan teman-temanku akan mengadakan sebuah acara kebaikan guna menyambut bulan suci Ramadhan. Namaku Saira, seorang mahasiswi. Aku, Mai, Selamat Berbuka Kak Roby! Oleh Mufidatul Husna Bulan ramadhan kali ini sama seperti sebelumnya, jauh dari keluarga memang sangat tidak menyenangkan, apalagi di saat mengingat momen dimana kami sedang berbuka dan sahur bersama. Aku Hanna umurku “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Kebiasaankami untuk berkeliling kampung saat Idul Fitri pun tidak terlaksana pada tahun ini, karena kami harus mengurus dan mengubur jenazah ayah. " I love you, Ayah. Nanti kita kumpul lagi, ya di surga-Nya Allah. Aamiin." Kataku, lalu menyium kening ayah sebelum dimasukkan ke dalam keranda oleh para tetanggaku.
Cerpen Ahmad Zaini Ramadhan telah berada di ujung bulan. Sinar matahari di bulan suci tinggal sejengkal lenyap di rerimbunan perdu. Rohana dibantu ketiga anaknya menata berbagai menu berbuka di ruang makan. Mereka menanti detik-detik terakhir berbuka puasa. Ketika beduk magrib bertalu-talu dari masjid, Rohana memimpin anak-anaknya berdoa lalu mengawali buka puasanya dengan makanan yang manis. Azan berkumandang di sela kegiatan berbuka. Mereka menjawabi setiap lafal azan dengan pelafalan yang tak sempurna. Rohana dan anak-anaknya tak ada niat mengacaukan atau mempermainkan ucapan tiap huruf dalam lafal azan. Akan tetapi, menu buka puasa yang memenuhi mulut merekalah yang memaksanya demikian itu. "Cukup anak-anak kita memakan takjil. Waktu maghrib sangat pendek. Mari kita shalat berjamaah dulu!" Rohana mengajak anak-anaknya. Ketiga anaknya tak ada yang menawar waktu. Mereka bergegas mengambil air wudlu lalu menunggu ibu terkasihnya di ruang shalat. Usai shalat mereka duduk berzikir melantunkan bacaan istighfar, tasbih, tahmid, dan takbir. Mereka melantunkannya secara bersamaan hingga gema suara memenuhi seluruh ruang rumah. Sungguh lafal-lafal itu mampu melunakkan kerasnya hati karena nafsu dan keangkaramurkaan. Rohana masih duduk khusuk dengan balutan mukena. Dia merogoh sukmanya sambil mengurai segala khilaf dan dosa yang pernah dia lakukan selama ini. Untaian istighfar yang terucap dari bibirnya membuka lembaran kelam hidupnya. Catatan dosa dalam memori tergambarkan secara sirri dalam benaknya. Rohana menegaskan diri bertobat kepada Allah atas dosa-dosanya. Dia memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa yang meluber bersama air mata pertobatannya. Ada yang tak sempurna pada malam lebaran kali ini. Rohana tidak lagi bersama suaminya dalam menyelami malam lebaran tahun ini. Dia mengusir Abdul Aziz, suaminya, dari rumah yang telah dibangun dengan susah payah lantaran fitnah tetangga pada pertengahan puasa. Aziz menjadi korban fitnah perselingkuhan dengan seorang janda sehingga Rohana mengusirnya meskipun tanpa bukti. Rohana cemburu buta. Dia ceroboh dengan memercayai laporan tetangganya begitu saja. Ribuan kata fitnah meluncur dari mulut tetangganya. Kata-kata itu membentuk pedang kebencian yang dihunus Rohana untuk menyerang Abdul Aziz. "Apa maksud semua ini?" tanya Abdul Aziz setelah melihat sikap Rohana. Rohana membuang sepiring nasi di depan Abdul Aziz. Piring tersebut hampir saja mengenai kepala anak keduanya. Untung Ratih sangat sigap menghindari piring terbang itu. Serpihan piring berserak mengurai mahligai rumah tangga yang telah mereka bina selama ini. Nasi dan lauknya berceceran memenuhi lantai putih seputih cinta Abdul Aziz kepada Rohana. Namun, putihnya cintanya telah tertutup oleh noda-noda fitnah yang telah menggelapkan mata hati Rohana. "Aku tak menyangka kau tega menikam saya dari belakang. Di depanku kau tampak seperti suami yang jujur dan sok romantis. Akan tetapi, di belakang kau bermain cinta dengan Maryamah. Sekarang kau pilih. Aku dan anak-anak yang keluar dari rumah ini atau kamu yang minggat ke rumah orang tuamu?" Kata Rohana dengan wajah angkara murka. "Dik Rohana, aku tidak paham dengan semua tuduhanmu. Bermain cinta dengan Maryamah siapa?" "Berlagak bodoh, ya? Maryamah, wanita TKW yang baru datang dari Timur Tengah, anak Pak Subhan temanmu pengurus masjid. Wanita janda, bahenol yang telah menggelapkan matamu sehingga kau tega melupakanku dan anak-anak." "Astaghfirullahalazim. Atas dasar apa kau menuduhku seperti itu? Aku tak pernah melakukan perbuatan seperti yang kau tuduhkan kepadaku. Bahkan, aku baru kenal Maryamah setelah Pak Subhan menceritakan anaknya itu yang baru pulang dari Suriah. Anaknya bisa pulang dengan selamat dari negara yang bergejolak tersebut." "Atas dasar itu kan kamu pura-pura bersimpati dan sering mengunjungi Maryamah di rumahnya?" "Rohana! Kau sudah termakan fitnah!" bentak Abdul Aziz. "Fitnah!? Ini bukan fitnah. Ini fakta. Semua tetangga tahu bahwa kamu semenjak Maryamah di rumah, kau sering ke situ." "Rupanya kau lebih percaya pada omongan tetangga daripada mendengar penjelasanku. Aku ke rumah itu karena aku menemui Pak Subhan. Kami membicarakan persiapan pelaksanaan takbir keliling dan salat Id di masjid. Kami berunding tentang khotib salat Id. Bukan bicara tentang Maryamah." "Aku tidak percaya dengan semua alasanmu. Sekarang juga kamu pergi dari rumah ini atau kami yang akan pergi? Sekarang juga," desak Rohana. Abdul Aziz dengan muka sedih karena tuduhan palsu istrinya bangkit dari balik meja makan. Dia masuk ke kamar untuk mengemasi pakaian lalu meninggalkan istri dan ketiga anaknya yang berderai air mata sembari memainkan menu berbuka puasa. Ketiga anaknya berdiri lalu berhamburan menuju kamar masing-masing. Selang tiga hari Pak Subhan datang ke rumah Rohana. Dia mengantarkan konsep acara takbir keliling serta rencana shalat Id yang telah dirembugkan bersama Abdul Aziz di rumahnya. Rohana sendiri yang menerima konsep dua acara yang terjilid rapi dari Pak Subhan. "Memang Pak Abdul Aziz di mana, Bu Rohana? Tiga hari ini saya tidak melihatnya sama sekali. Padahal, ada beberapa hal yang sangat penting untuk dibahas bersama panitia yang lain?" "Memangnya suami saya menjabat apa dalam acara ini?" tanya Rohana penasaran. "Pak Abdul Aziz sebagai ketua dan saya sebagai sekretarisnya. Kami berdua hari-hari ini sering mendiskusikan kedua acara tersebut di rumahku agar acara bisa berjalan dengan baik dan lancar." Pak Subhan menjelaskannya kepada Rohana. "O, begitu! Maaf, tiga hari ini Pak Subhan ada kepentingan di rumahnya Banyuwangi. Mungkin besok sudah pulang," kata Rohana. Pak Subhan manggut-manggut. Dia pun pamit meninggalkan istri Abdul Aziz. Rasa sesal mulai tumbuh dalam diri Rohana. Dia menyesali tindakannya yang telah menuduh suaminya bermain api dengan Maryamah. Dia termakan fitnah tetangganya yang iri hati pada keharmonisan rumah tangganya. Hati Rohana yang paling dalam sebenarnya tak percaya dengan fitnah itu, namun karena cintanya selama ini pada Abdul Aziz sehingga dengan mudah dia mudah terbakar gosip miring sampai-sampai cemburu buta. "Bu, kenapa menangis?" tanya Laili, si anak bungsu. "Ah, tidak. Ibu tidak menangis," jawabnya sambil mengusap air matanya. "Malam lebaran ini terasa tidak sempurna tanpa kehadiran ayah," sambung Laili. "Benar," kata singkat Rohana sambil mendekap Laili. "Besok pagi ayah harus berkumpul lagi dengan kita." Rohana terhenyak mendengar ucapan Laili. Dia menatap wajah anaknya yang masih duduk di bangku SMP ini dalam-dalam. Hati Rohana menangis karena terharu atas kerinduan anaknya pada sosok ayahnya. Rohana tertunduk di hadapan anaknya. Dia merasa malu karena telah mengusir suaminya tanpa alasan yang jelas. Dia ingin memutar waktu sehingga dia mencabut kata-katanya yang terakhir pada suaminya. Laili menemui Ratih dan kakak tertuanya Fatimah. Laili menyampaikan niatnya kepada kedua saudaranya. Dia bercerita tentang ibunya yang selalu menangis dan berlinang air mata penyesalan. "Benarkah itu? Kalau begitu saat ini pula kita telepon ayah agar besok pagi-pagi keluarga kita menjadi lengkap lagi," kata Amran. Fatimah segera mengambil handphone. Dia menghubungi ayahnya yang telah berpisah dengannya selama dua minggu. Dia meminta kepada ayahnya agar segera kembali ke rumah yang telah ditempatinya selama ini. Ayahnya setuju dan menerima permintaan anak-anaknya. Malam semakin larut. Suara takbir menggema di seluruh alam raya. Kalimat-kalimat thayyibah yang mengagungkan Allah tiada henti merambati waktu semalam suntuk. Pada penghujung malam saat fajar mulai tampak, di pintu depan rumah Rohana terdengar suara ketukan. Fatimah, Ratih, dan Laili bergegas bangkit dari tidurnya. Mereka berhamburan menuju pintu depan. Daun pintu kayu jati mereka buka perlahan. Ternyata sosok ayah yang mereka rindukan telah berdiri di depannya. Mereka saling berangkulan dan hanyut dalam dekap kerinduan. Ratih dan Laili menjemput ibunya yang akan menunaikan shalat shubuh. Mereka memberi kejutan pada ibunya yang semalam suntuk melantunkan takbir di ruang salat rumahnya. Dia dipertemukan suaminya oleh anak-anaknya. Rohana bersimpuh dengan isak tangis penyesalan. Dia meminta maaf kerena telah mengusirnya atas dasar hasutan tetangganya. Di hari yang suci keluarga yang sempat berantakan kini menyatu lagi. Bunga-bunga permaafan memenuhi ruang hati mereka. Senyum kebahagiaan mengembang dari penghuni rumah di hari kemenangan yang penuh makna. Mereka berkumpul lagi merayakan hari raya lebaran dengan kesempurnaan. Wanar, Maret 2022 Ahmad Zaini, guru di SMKN 1 Lamongan dan Ketua PC Lesbumi NU Babat. Beberapa puisi dan cerpen sering dimuat di berbagai media cetak dan online serta telah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi dan cerpen. Buku kumcer Lorong Kenangan dinobatkan sebagai pemenang dalam GTK Creative Camp GCC 2021 oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Saat ini dia berdomisili di Wanar, Pucuk, Lamongan. Cerpententang hari raya idul fitri pigura . Pada kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman saya bersama keluarga dalam melaksanakan shalat hari raya idul fitri. Ia dapat mengeratkan tali persaudaraan dan pada setiap tahun, . ١٠ ذو الحجة ١٤٤٣ هـ. Dan idul adha, hari raya ini dilaksanakan pada tanggal 10 dzulhijjah, yakni
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Perempuan tua itu terduduk di balik jendela yang terbuka. Wajahnya datar dengan tatapan kosong. Angin basah dari bukit bertiup lembut, terasa seperti mengelus kulit dan rambutnya yang mulai merata keperakan. Pikirannya berjalan-jalan entah ke mana. Bila tersadar telah melamun, ia segera kembali melihat ke luar bawah sana aliran sungai dengan air jernih gemericik diantara batu-batu. Di bantaran kiri-kanan sungai rerumpatan rapi terawat serta beberapa tanaman petani yang memanfaatkan musim kemarau untuk berkebun sayur-mayur."Tinggal saja di sini, Mak. Supaya pikiranmu tenang dan jernih. Hatimu pasti cepat kembali bening seperti aliran air di bawah sana itu. . . .!" "Tinggal di sini? Pindah?" "Ya. Di sini tenang, nyaman.. . .!""Begitu menurutmu?""Dengan selalu melihat dan mengamati aliran air diantara batu-batu rasaku Emak tidak akan memikirkan hal lain yang memberatkan hati. Dunia Emak yang rumit dan membingungkan selama ini akan perlahan hilang untuk berganti dengan ketenangan dan kesenangan. . . !" ucap Pak Sulamun dengan suara jernih dan rendah pada suatu hari dulu, mungkin lima atau enam tahun Fitri memandangi suaminya dengan mata nanar, mata bertanya-tanya. Ia tidak membantah atau mengiyakan. Apa saja yang diucapkan suaminya masih berupa harapan, dan setiap harapan senantiasa baik dan menyenangkan. Entah nanti bagaimana kenyataannya. "Ini rumah siapa, dan mengapa harus di sini?" akhirnya Mak Fitri bertanya. Lirih, dan seperti tanpa sengaja pertanyaan itu Sulamun tidak segera menjawab. Mungkin jawabannya sulit, atau memang tidak perlu dijawab. Ia pikir toh lambat-laun nanti isterinya bakal tahu sendiri."Aku sengaja pesan ruangan yang ada jendelanya. Ada pemandangan ke luar yang indah. Ya, ruangan ini. . . !" 1 2 3 Lihat Cerpen Selengkapnya
ContohCeramah Tentang Idul Fitri - Rasmi B. UPI Selenggarakan Lomba Menulis Puisi dan Cerpen. Jual Buku (SERI HARI RAYA ISLAM) IDUL ADHA PERTAMAKU oleh Tim Divaro - Gramedia Digital Indonesia Cerpen Tentang Idul Adha. Contoh Karangan dan Cerita Tentang Pengalaman di Hari Raya Idul Adha 1442 H - Guru Penyemangat.
Idulfitri untuk Ibu Cerpen Siswati Pukul 10 malam. Gerimis masih membasahi setiap jengkal tanah yang kupijak. Sementara, angin berhembus kian kencang menusuk hingga ke persendian tulangku. Kurapatkan mantel yang tengah kupakai. Perlahan aku mulai melakukan tugasku, mengunci pintu pagar. Tugas ini hanya kulakukan ketika aku pulang kampung, ketika jadwal sekolah libur. Malam ini, aku mengunci pintu pagar lebih cepat dari biasanya. “Ibu tidak akan tahu,” pikirku. Cepat-cepat kuselesaikan pekerjaanku. Aku harus segera masuk sebelum ibu curiga dan “Yah, selesai,” ucapku lega. Dengan tergesa, aku kembali ke rumah, tapi sesampai di pintu aku tertegun akan kehadiran sesosok tubuh yang sudah sangat kukenal. “Bu, kenapa keluar? Nanti Ibu masuk angin!” ucapku cemas. Ibu cuma memandangku tajam dan perlahan beliau mengalihkan pandangan ke arah kunci pagar yang kupegang. Aku tersedak, segera aku sadar bahwa ibu telah memorgoki aksiku barusan. “Mereka tidak akan pulang malam ini, Bu,” ucapku bergetar. Aku tahu, ibu tidak akan suka mendengar perkataanku barusan, tapi aku sudah tidak punya kata-kata lain. Bahkan, aku memang tidak pernah punya jawaban atas pandangan ibu barusan. Aku cuma diam, lalu berbalik masuk ke rumah. Kalau sudah begini, ibu pasti akan menangis, meratapi nasibnya yang telah dilupakan anak-anaknya. Aku sadar bahwa perbuatan itu pelan-pelan telah membunuh harapan ibu, harapan untuk berkumpul dengan anak-anaknya lagi. *** Pagi itu, aku bangun lebih awal dari biasanya. Ibu masih tertidur di ranjang. Azan subuh belum bergema, segera kuraih benda pipih persegi di sisi ranjangku. Kuputuskan untuk mencoba menulis pesan lewat chatt kepada keempat kakakku nun jauh di sana. Suatu hal yang telah lama tidak kulakukan. Pelan jemariku mulai mengetik kata demi kata, namun setiap aksara yang kutuliskan seakan hampa, tiada arti dan akhirnya aku menghapusnya. Aku tidak ingin seperti kakak-kakakku, melupakan ibu yang telah menuntun dan membimbing anak-anaknya untuk menjalani kehidupan ini, baik susah maupun senang. Pandanganku mengabur, mataku mulai basah, dadaku kian terasa sesak, seolah ada beban berton-ton yang menghimpit tubuhku. Ibu, maafkan aku, aku tak sanggup membawa kakak-kakakku untuk kembali ke rumah ini. Bahkan, ketika ayah menghembuskan napas terakhirnya, suara parau yang kita perdengarkan pada mereka hanya mampu menahan mereka tiga malam di rumah ini, tidak lebih dari itu. Aku hanya pasrah menerima kenyataan tanpa mampu berbuat apa-apa untuk menahan kepergian mereka. Tak sanggup rasanya aku membayangkan luka batinmu saat itu. Baru saja kehilangan seseorang yang amat kau cintai dan engkau harus melepas kepergian anak-anakmu yang entah kapan akan kembali pulang. Ibu… ah, tiga lebaran telah berlalu tanpa arti. Hanya kita yang merayakannya dengan beberapa aksara pada chat di WA grup keluarga yang mengabarkan bahwa kakak-kakakku tak bisa pulang. “Allahu Akbaar…! Allahu Akbaaar…!” Suara azan subuh menyadarkanku dari dari lamunan panjangku. Segera kuhapus sisa air mata dan merapikan wajahku sekenanya. Kudekati ranjang, membangunkan ibu yang kebetulan ketika aku di rumah tidur bersama di ranjangku. “Eh, kamu sudah bangun, Ra?”sapa beliau. Kuraih tangannya. Bersama, kami ke belakang untuk berwudhu, lalu shalat berjamaah. Selesai salat, biasanya, ibu akan tenggelam dalam tilawah panjangnya, sementara aku mulai sibuk berbenah di dapur menyiapkan sarapan pagi. *** Benda pipih persegi itu segera kucabut dari charger. Aku akan menghubungi saudara laki-lakiku, Bang Rizal. Entah kenapa hatiku masih ragu, bayang-bayang pertengkaran kecil kami semalam terlintas lagi. “Ibu tak mau tahu, pokoknya kamu harus telepon Rizal. Besok ulang tahunnya!” ujar ibu setengah berteriak kepadaku. “Tapi Bu…! Buat apa? Paling Bang Rizal cuma bilang terima kasih, seperti tahun-tahun yang lalu. Rara capek Bu,” jawabku tak kalah sengit. “Jangan kurang ajar, Ra! Biar bagaimana pun dia kakakmu, dia juga yang menyekolahkanmu hingga sekarang. Apa salahnya kita mengucapkan selamat ulang tahun padanya,” jawab ibu lagi, lebih melunak. “Ya, Bang Rizal memang tak pernah lupa mengirimkan uang, tapi ia selalu lupa mengirimkan kasih sayang ke rumah ini!” Aku mulai terisak. “Bang Rizal, Bang Ikhsan, Celok Mela, dan Uni Neti, mereka nggak lupa kasih uang, tapi mungkin lupa letak rumah ini,” lanjutku lebih keras lagi. Untuk beberapa saat, tercipta keheningan di antara kami. Ragu aku memandang wajah ibu. Beliau cuma diam, tapi lukisan wajahnya menyiratkan kepedihan yang amat dalam. Diam-diam aku mulai dihinggapi perasaan bersalah. Dengan serta merta, kuraih tangan ibu dan menciumnya sambil berkali-kali minta maaf. Ibu menangis. Beliau balas menciumku tanpa henti. “Sudahlah Ra, tak usah minta maaf. Kamu tak salah apa-apa. Sudah nasib ibu begini, dilupakan anak-anaknya,” ujar dengan suara parau. Tangisku kian menderas, kata-kata ibu barusan benar-benar menusuk perasaanku. Aku sadar, luka hati ibu sudah terlalu dalam, tapi mengapa kasih sayangnya seolah tak pernah berhenti mengalir buat anak-anaknya. “Rara nggak akan seperti itu, Bu… Rara sayang Ibu,” jawabku sungguh-sungguh. Ibu memandangku dan mulai menyeka air mataku. Beliau tersenyum. Sungguh sebuah senyuman yang amat mendamaikan hati. Ah, kakak-kakakku, kenapa kalian begitu bodoh hingga melupakan kedamaian ini. Akhirnya, setelah kutunaikan shalat Subuh, kuraih Oppo-ku. Hatiku berdegup kencang dan nyaris menghancurkan konsentrasiku. Dengan cepat, aku menekan 12 nomor yang sudah hafal diluar kepalaku. Nomor HP Bang Rizal. Aku harus menunggu cukup lama sebelum panggilanku dijawab. “Assalamualaikum, Bang,” sapaku. “Waalaikummussalam! Ini siapa ya?” balas Bang Rizal. “Ini Rara Bang, dari kampung,” jawabku. “Oaalah Rara. Abang kira siapa. Ada apa Ra?” tanyanya. “Nggak ada apa-apa, Cuma mau bilang selamat ulang tahun buat Abang,” jawabku ringan. “Oh,… makasih Ra, ndak disangka kamu selalu ingat ultah Abang, makasih ya!” balasnya lagi. “Ibu yang selalu ingat, Bang. Beliau tidak pernah lupa ultah kita,” jawabku sambil menahan perih di hati. “Bang, ngg… anu!” tanyaku ragu. “Ada apa Ra? Apa Ibu butuh uang? Belum bisa sekarang Ra! Abang juga lagi susah. Kamu minta sama Bang Ikhsan saja ya, usahanya lagi bagus!” serobot Bang Rizal. “Bukan itu!” seruku menahan sesak. “Ibu tak butuh uang! Aku cuma mau tanya, apa Abang bisa pulang kampung?” sunggutku kesal. “Pulang kampung? Ibu sakit ya?” “J…Jaa.. jadi Abang baru mau pulang kalau Ibu sudah sakit? Iya Bang, Ibu sedang sakit!” ujarku setengah berteriak. Aku harus menumpahkan semua beban hatiku. Aku tak sanggup lagi melihat penderitaan ibu. “Ibu tak apa-apa kan? Abang sedang sibuk Ra, mungkin setelah lebaran Abang bisa pulang,” jawabnya pelan. “Tapi Abang sendiri yang menjanjikan pada Ibu ketika Ibu meminta Abang untuk pulang Idulfitri kemarin kalau Abang bisa pulang lebaran sekarang,” tuntutku. ”Habis gimana lagi!” jawabnya enteng. Detik itu juga kepalaku rasanya mau pecah. Sia-sia sudah perjuanganku. Tubuhku terasa lemas tak berdaya, namun tiba-tiba satu perkataan lagi meluncur di seberang sana, yang semakin menghancurkan harapanku. “Mungkin Bang Ikhsan dan Celok Mela juga belum bisa pulang, dan bla…bla…” Ya Allah! Sekarang musnah sudah harapanku, bathinku. Dalam diam, kututup kembali telepon itu. Pertahananku runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya. Apa yang harus kukatakan pada Ibu sekarang? *** Waktu terus berjalan begitu cepat, tapi ibu tak pernah berhenti berharap. Dan aku, aku sendiri tenggelam dalam perasaan bersalahku. Kerut-kerut di wajah ibu seolah menghakimi aku dan membuatku semakin tersiksa dalam ketidakberdayaan. Beberapa kali kucoba menulis surat atau menelepon mereka, tapi semua itu tak lebih berharga dari segudang kesibukan mereka. Seribu satu alasan telah kulontarkan pada mereka. Namun, sepuluh ribu alasan lagi yang mereka kembalikan padaku untuk menolak ajakanku untuk pulang. Sampai akhirnya, aku bosan untuk terus berharap dan memilih untuk diam. Tapi Ibu, oh… beliau tak pernah berhenti berharap, seolah ada sungai yang mengalir yang tak putus-putus di hatinya, yang terus mengaliri harapan-harapannya. “Maafkan aku Ibu,”bathinku. *** Hari ini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku berkumpul lagi bersama keempat kakakku tanpa kurang seorang pun. Cuma bedanya, kami tidak berkumpul di rumah yang penuh harapan ibu, tapi kami tengah mengelilingi dua pusara yang saling berdampingan. “Ibu, akhirnya harapan ibu terkabul. Hari ini kita bisa berkumpul bersama lagi, tepat di hari raya Idulfitri ini, Bu.” * Biodata Penulis Siswati kelahiran Nanggalo, 14 April 1981. Ia merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara. Ia salah satu peserta Sekolah Menulis FLP Sumbar 2020 dan alumni Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Sekarang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Sejak tahun 2008 hingga sekarang, ia menjadi guru di Perguruan Islam Ar Risalah, Padang. Siswati telah menerbitkan tulisannya dalam buku berjudul Perjalanan Berkah Menuju Ka’bah Sebuah Memoar. Tema Universal dalam Karya Sastra dan Tantangan Menulis Cerita yang Tak Biasa Oleh Azwar Sutan Malaka Pembina FLP Sumatera Barat dan Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta Ragdi F Daye, dalam kata pengantar buku Kumpulan Cerpen Idul Fitri untuk Ibu 2020 menuliskan bahwa dalam cerpen-cerpen karya Forum Lingkar Pena FLP Sumatera Barat banyak menempatkan sosok ibu, baik secara harfiah maupun metaforis—keluarga, tradisi, masa lalu—menjadi titik sentral kehidupan para tokoh anak. Shabrina Maulida 2019 dalam skripsinya berjudul “Citra Ibu dalam Puisi Indonesia Modern Serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra Indonesia di Sekolah” menyampaikan bahwa citra ibu dalam sebuah puisi karya sastra merupakan bayangan visual mengenai pribadi atau kesan mental seorang ibu yang diperoleh dari kata, frasa, atau kalimat yang ditulis dalam karya sastra tersebut. Lebih jauh Maulida 2019 menjelaskan bahwa munculnya citra ibu dalam imajinasi pembaca merupakan hasil dari usaha penulis dalam menyampaikan pandangannya. Pembaca dalam hal ini seakan dihadapkan langsung dengan sesuatu yang konkret mengenai ibu. Dengan demikian, penyajian citra dalam sebuah karya sastra tidak hanya untuk memberi gambaran yang jelas, tetapi juga dapat menarik perhatian, membangun suasana tertentu, hingga membantu dalam proses penafsiran dan penghayatan puisi. Dalam banyak karya kreatif pun, kisah tentang “Ibu” memang tak habis-habisnya dieksplorasi oleh insan kreatif. Baik di Sumatera Barat sendiri, Indonesia, bahkan karya-karya kreatif dunia. Di Indonesia beberapa karya sastra bertema Ibu diantaranya adalah Novel Dua Ibu karya Arswendo Atmowiloto yang diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 1981 dengan tebal 231 halaman. Motingo Busye menulis novel berjudul Rindu Ibu adalah Rinduku. Motinggo Busye merupakan sastrawan penting yang banyak menelurkan karya pada tahun 60-an. Rindu Ibu adalah Rinduku berkisah tentang seorang perempuan bernama Lisdayani, seorang istri dan ibu dari enam orang anak. Cerpen yang terbit di Kreatika minggu ini berjudul “Idul Fitri untuk Ibu” karya Siswati. Cerpen ini bercerita tentang rindu seorang ibu terhadap anak-anaknya. Cerpen ini dibuka oleh penulisnya dengan dramatis di mana di tengah malam beberapa hari menjelang Hari Raya Idul Fitri, seorang ibu keluar dari rumah untuk menunggu kehadiran anak-anaknya yang merantau. Cerita yang dramatis itu terlihat dari paragraf berikut ini “Mereka tidak akan pulang malam ini, Bu,” ucapku bergetar. Aku tahu, ibu tidak akan suka mendengar perkataanku barusan, tapi aku sudah tidak punya kata-kata lain. Bahkan, aku memang tidak pernah punya jawaban atas pandangan ibu barusan. Aku cuma diam, lalu berbalik masuk ke rumah. Kalau sudah begini, ibu pasti akan menangis, meratapi nasibnya yang telah dilupakan anak-anaknya. Aku sadar bahwa perbuatan itu pelan-pelan telah membunuh harapan ibu, harapan untuk berkumpul dengan anak-anaknya lagi. Siswati, 2020. Penekanan penulis terlihat pada kalimat “Kalau sudah begini, ibu pasti akan menangis, meratapi nasibnya yang telah dilupakan anak-anaknya.” Kisah ini menjadi bagian yang sering dieksplorasi penulis, kisah kerinduan seorang ibu pada anak-anaknya yang sudah hidup dengan kehidupan mereka masing-masing. Kisah rindu seorang ibu menjadi pilihan penulis untuk diceritakan baik dalam cerita pendek ataupun cerita-cerita yang panjang, adalah pilihan sadar bahwa tema tentang “Ibu” memang tema yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Dia tema abadi sepanjang masa, sama abadinya dengan kisah-kisah cinta orang tua pada anaknya. Ragdi F Daye 2020 melanjutkan bahwa kemelut relasi dan interaksi dengan keluarga mucul dalam “Idul Fitri untuk Ibu.” Berawal dari sejumlah perdebatan tentang anak-anak yang berkali-kali gagal—atau sengaja menolak?—mudik, hingga berujung pada “Hari ini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku berkumpul lagi bersama keempat kakakku, tanpa kurang seorang pun. Cuma bedanya, kami tidak berkumpul di rumah yang penuh harapan ibu, tapi kami tengah mengelilingi dua pusara yang saling berdampingan.” Kisah cerita yang tragis yang ditulis oleh Siswati 2020 dimana anak-anak hanya bisa berkumpul ketika ibunya sudah tiada menjadi pesan moral yang dibebankan pada cerita. Penulis ingin menyampaikan pada pembaca, selama masih memiliki orang tua, sesibuk apapun urusan dunia yang sedang dihadapi sempatkanlah untuk menyilau orang yang sangat berjasa dalam hidup setiap manusia itu. Walaupun ada cerita-cerita tentang kejamnya “Ibu” dalam beberapa karya sastra, namun tema tentang jasa para “Ibu” selalu mendominasi tema-tema cerita tentang ibu. Hal ini menunjukkan bahwa pilihan tema yang universal ini selalu menarik untuk diceritakan saat ini dan untuk masa depan. Tantangan dari mengangkat tema yang universal ini adalah sulitnya mengeksplorasi cerita tentang “Ibu” ini. Ini tentu karena sudah banyaknya cerita-cerita tentang ibu yang rindu pada anak-anaknya. Hal ini jugalah yang menjadi kelemahan dalam cerita pendek berjudul “Idul Fitri untuk Ibu” karya Siswati ini. Tema yang universal dan sudah sering berulang dalam beberapa karya sastra ini membuat cerpen ini sangat mudah untuk dibaca alur cerita dan endingnya. Satu paragraf membaca cerpen ini seolah sudah memberi gambaran pada pembaca bagaimana akhir cerpennya. Setelah membaca beberapa paragraf awal, pembaca bisa menebak akhir cerpen ini. Apakah akan mengarahkan pada cerita dengan happy ending akhir cerita bahagia atau cerita dengan sad ending akhir cerita sedih. Jika cerita akan berakhir bahagia, tentu sebelum lebaran datang, anak-anak yang dirindukan oleh tokoh ibu ini akan bisa pulang melihat sang ibu walaupun dengan berbagai tantangan yang dhadapi anak-anaknya. Sementara itu jika cerita ini akan berakhir sedih, ya…sudah dapat ditebak juga bahwa sang ibu akan merana menunggu anaknya yang tak datang-datang sampai hari lebaran tiba. Nah, Siswati teryata memilih cerpen “Idul Fitri untuk Ibu” berakhir dengan sedih sad ending dimana ia “membunuh” tokoh Ibu dalam cerpennya sebelum anak-anaknya berkumpul melihatnya. Pilihan tema sedih ini tentu dapat dimaklumi karena pengarang ingin menekankan pesan moral bahwa jangan sampai terlambat menjumpai sosok ibu, apalagi terlambat berbakti pada ibu walau hanya dengan memenuhi keinginannya untuk berkumpul pada hari raya. Sebagai lulusan Sastra Indonesia, Siswati perlu ditantang untuk menulis cerita yang lebih menarik dengan mengangkat tema-tema yang tidak universal. Ada pilihan tema yang mungkin jarang dieksplorasi dalam karya-karya fiksi tentang banyak hal, seperti perjuangan guru yang berkebutuhan khusus, tentang cinta yang tak biasa antara anak manusia, tentang hubungan manusia dengan alam atau lingkungannya dan tentang banyak hal yang spesifik yang jarang dieksplorasi dalam cerita. Memang butuh keberanian untuk menghadirkan karya sastra yang bertema tidak biasa, akan tetapi untuk memperkaya khasanah sastra Indonesia, kita membutuhkan karya-karya yang tidak biasa itu. Semoga saja Siswati dan juga pengarang-pengarang lainnya di Forum Lingkar Pena FLP khususnya dan di Indonesia pada umumnya mampu menjawab tantangan ini –Menulis karya sastra dengan tema yang tak biasa–. * Catatan Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra cerpen dan puisi. Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca. Kirimkan cerpen atau puisimu ke karyaflpsumbar .
  • o495kpo7y2.pages.dev/424
  • o495kpo7y2.pages.dev/211
  • o495kpo7y2.pages.dev/469
  • o495kpo7y2.pages.dev/71
  • o495kpo7y2.pages.dev/64
  • o495kpo7y2.pages.dev/382
  • o495kpo7y2.pages.dev/276
  • o495kpo7y2.pages.dev/444
  • cerpen tentang idul fitri